mengerti untuk memahami

saat purnama hadir, bulan sabit pastilah berlalu
usah kau sesali mendung yang menjadi hujan
usah kau tangisi luka yang menjadi air mata
yang pergi, bukanlah yang terbaik untuk kita...

hening yang menikam

seketika jiwa melayang saat petang, kesendirian menenggelamkanku dalam lautan yang keruh, bisu, kelu.
sesekali bongkahan sepi meremukkan seisi kepalaku, saat tersadar kutemukan kepingan mimpi yang utuh kembali.
hening begitu menghiburku, hingga dari belakang dia menikam, membujurkanku dalam ketidak-mengertian tentang apa yang telah terjadi.
aku harus bagaimana?, kemana akan aku susun kembali jiwaku?, sedang pertapaanku belum berakhir...

dalam sebuah taman

dalam sebuah taman engkau termenung, menatap sepi yang tak bertepi. jalan sunyi telah menunjukkan kepadamu tentang keindahan sebuah perenungan. bunga yang mekar pasti kan layu, daun yang hijau pasti berguguran. tak ada yang abadi, semua hanya fana.
dalam sebuah taman engkau terapung, terkubur dalam wewangian yang pasti satu saat meninggalkanmu.
dalam sebuah taman engkau terdiam, matamu memerah, mulutmu komat-kamit membaca puisi, atau, mungkin sedang menyumpahi diri...

(tidakkah kau lihat kupu-kupu yang menertawaimu?)

gadis serambi masjid

duh jiwa yang sepi, aku membaca dari sorot matamu betapa engkau begitu merindu.
tatapmu adalah sepenggal cahaya yang merasuk, perlahan menggugurkan reranting sepi yang rapuh terbasuh peluh.
adakah yang kau nati?
dirumah Tuhan engkau termenung, menepi dalam sepi.
tak perlu engkau meratap kepergian waktu, tak ada yang pergi meninggalkanmu, hanya sejenak jenuh yang meratap mnulis puisi tentang keindahan.
tunggulah, sabar dalam kepastian, seperti ujar waktu

: tak ada yang meninggalkanmu!

meremang petang menjelang

sudahkan kau lihat senja kali ini?, matamu kan terpukau ketika titik-titik menghujam kematamu. engkau tak lekas dan tak akan segera, berlari bagimu adalah keniscayaan. kau kan terdiam, kala petang mulai menjelang. kerinduanmu pada hari-hari kan terobati, sesaat. tak jua pekat, tak luput hatimu terpana. esok menjelang, hilang. terlarut dalam remang, petang hilang menjlang.

senja di ujung kepala

merekah
sendu merayu
esok kurasa sempurna
senja kian padamkan bara
meredam sepi
merindu mimpi

duhai penyihir kecil, lepaskan mantramu pada jiwa rapuh ini. biarkan aku nikmati cinta yang sewajarnya, tak mampu aku dalam gelombamg, hempasannya remukkan seisi kepalaku. dalam senja ini ingin kuterbenam, terapung dalam genangan air bening yang mengalir, meraba bebatuan dengan ketulusan.

merekah
sendu merayu
esok kurasa kian sempurna

hati yang bercahaya

lihatlah kemataku, kau kan temukan bara yang tak jua padam. gunung riuh merapuh, terkikis habis oleh pedih. kemana lagi kepala kubenturkan?, jika yang tersisa sekarang adalah matahari yang membakar sekujur jiwaku!.

Sampai Awan Tak Kelabu

Sampaikanlah kepada pemegang hiduku, bahwa aku saat ini sedang dalam gundah. Entah kepada siapa rindu ku alamatkan, kepalaku kadung menggumpal kelam, semua terisi mimpi yang tak jua sudah. Dulu aku merindu, kini aku menepi. Entah apakah akan remuk isi kepalaku ini, aku tak kuasa menahan gelombang yang kian mengembang. Sampai kapan awan ini akan menjadi hujan?, biarlah pemilik jiwaku yang mengurainya...

menepi resah

sudah
lelah tak jua merekah
mimpi semu lahirkan jengah
kepada siapa mimpi terberi
sepasang camar berpagut dalam canda

aku masih menepi
sepi

jika yang kita lukiskan

Jika yang kita lukiskan saat ini adalah rembulan, kurasa terlalu bulat goresan kita. Purnama belum saatnya, yamg tergambar sekarang adalah bulan sabit yang indah karena lengkungnya.
Jika yang kita lukiskan saat ini adalah taman bunga, kurasa terlalu banyak bunga yang mekar. Kelopak belum waktunya, yang tersisa sekarang hanyalah rumput - rumput ilalang, dan kelopak - kelopak yang meranggas terbakar matahari.

sepersekian detik

sepersekian detik aku tak sanggup
berlari,
menghimdar alpha
kurasa dalam kian menikam
kebodohan akal memaknai hati

: tak sanggup aku menjadi malikat
lalu, diam-diam aku menjadi setan

12 Nopember 2008

setan tak lagi menyesatkan
aku yang mencarinya, kini
tinggal sepenggal sajak terangkai
tak luput angkuh jenuh terbasuh

Kepada Siapa?

Kepada siapa malam harus menitipkan sepi?
Hujan kurasa lebih ngerti,
: setitik air, menggenang sepi
riuh kurasa tak lagi angkuh

Kepada siapa sepi harus mengadu?
Hening kurasa lebih ngerti,
: sahutan angin, gemuruh lari
tiada kurasa tak lagi beda

Lalu, kepada siapa?
Malam begitu hening
Sepi tak jua menepi
: entah kepada siapa!

Palumbungan Wetan 12-11-08

purbalingga jenuh

ketika tak mampu menahan jenuh
sepi bertaut berulang jantung
kapan akan kita pergi ?
membenahi jiwa yang semalam merapuh

kita bagai sepasang jalang
merona wajah - wajah durjana
setankah yang merasuk ?
ataukah kita yang meyetankan diri ?

jenuh
tak sangka jiwa merapuh
kapan semua akan tertebus ?
jiwa merapuh
hati kian jenuh

maafkan aku...

setelah kemarin

: manugso mung sakdermo

setiap jalan pati ada tujuan
setiap ujian pasti ada jawaban

karena hidup
tak seperti
kemarin

kemana pergi

kemanakah seberkas harapan
pergi menunutun
merampungkan mimpi yang taksempat
menyambangi semalam
aku

kemanakah setitik harapan
setelah cahaya tak sempat
memiliki kehadiran
kemana
tak terbasuh hati tak riuh

kemana pergi, atau
pergi kemana ?
setitik harapan
dalam seberkas harapan

jenuh sepi membunuh

seketika
aku terjebak dalam bening
keruh riuh kian merapuh
: aku tak berdaya !

" Kepadamukah harus kutitipkan
kepalaku ini? "

:...!?