Senin, 25 Mei 2009

Awal dari Sebuah Awal

Awal akhirnya menemukan tujuannya
Akhir menjelma, mengganti tawa
Melukiskan sepi lewat air mata
Kemarin adalah taman bunga
Wangi kuntum merebak dalam nuansa
Kini adalah taman bunga
Wangi kuntum sirna tertelan masa
Aku dalam diriku
Kamu dalam dirimu

Ilucinta III

: sri haryani

Sepasang mata bening
Beradu senyum dalam malu – malu
Dalam terik yang terhidang
Siang menyentuh jiwa – jiwa dalam tatapan mesra
Kita terlarut dalam perasaan – perasaan yang menurut kewajaran
Jejak – jejak tersita jarak
Waktu menuntut untuk mengerti, sedangkan rasa kian menghampa
Kita bertemu, beradu, namun tak menyatu

: taman bunga telah terhampar dihadapan kita, kaki kita tinggal melangkah
kenangan telah menghidangkan setumpuk kerinduan
tapi kita kalah, tak sempat hati menyatu
ragu telah menyita senyum tawa, harapan untuk menamai perasaan kita
menghampa
aku larut
engkau terhanyut

Rumah Sepi

Perputaran detik menghidangkan sepi dalam
Jiwaku, terlupa aku akan riuh
Senyum tawa terlupa, luka
Bagai mengiris, dalam
Hampa

Aku berada disebuah rumah sepi
Tanpa penghuni yang biasanya
Memetik senyum
Menyuguhkan secangkir kemesraan dalam jengkal laku

Entah, kemana perginya cahaya itu
Padahal malam telah mengikat hampa
Membiarkan air mengalir dalam dahaga
Larutkan sepi bersama hujan yang baru reda

Dalam perputaran detik
Masih saja sepi di rumah ini
Entah kapan semua kembali
Secangkir kemesraan, senyum tersaji
Esok, lusa, entah…

Jumat, 22 Mei 2009

setelah rindu

aku merenung setelah rindu
tak jua bibir mengucap
buah rindu kian nyata
sepasang sinar akan menyala
menerangi dengan cinta
buah rindu

setelah rindu
kuyakin cinta kian membara